SURABAYA - SURABAYA, BEDAINNEWS.COM – Warung kopi (warkop) menjadi salah satu usaha mikro yang terus berkembang di Kota Surabaya. Keberadaannya kini mudah ditemui di berbagai kawasan, mulai dari permukiman, ruas jalan utama hingga sekitar kampus.
Warkop di Surabaya tidak lagi hanya menjadi tempat menikmati kopi dan berbincang santai. Seiring perubahan gaya hidup masyarakat, konsep warkop berkembang menjadi tempat berkumpul komunitas, pekerja muda, pelajar, mahasiswa hingga masyarakat umum.
Secara historis, keberadaan warkop di Surabaya telah dikenal sejak sekitar 1960-an. Pada masa itu, warkop lebih banyak menjadi tempat bapak-bapak menikmati kopi hitam dan beristirahat setelah bekerja.
Kini, warkop hadir dalam berbagai konsep. Mulai dari warkop tradisional, warkop semi-modern yang mengusung komunitas tertentu seperti Bonek, pengemudi ojek online dan organisasi masyarakat, hingga warkop modern yang menyasar kalangan anak muda.

Peluang usaha warkop juga cukup terbuka dengan konsep yang menyesuaikan kebutuhan konsumen. Lokasi strategis, misalnya dekat jalan raya, permukiman padat atau kawasan kampus seperti Universitas Airlangga (Unair), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dan Universitas Negeri Surabaya (UNESA), menjadi salah satu pertimbangan.
Dapatkan Peringatan Berita Terkini Langsung di WhatsApp Anda!
Bergabung bersama ribuan pembaca lainnya untuk mendapatkan update berita pilihan.
Selain lokasi, sejumlah warkop menyediakan fasilitas tambahan seperti Wi-Fi, televisi atau monitor, sound system, toilet hingga musala. Menu yang ditawarkan juga semakin beragam, mulai dari kopi racikan dan kopi sachet, minuman hangat atau wedang, minuman nonkopi, minuman bersoda, mi instan hingga makanan ringan.
Salah satu warkop yang beroperasi selama 24 jam berada di wilayah Surabaya Barat. Pada Senin (19/10/2026), Bedainnews.com menemui Anas (23), penjaga Warkop BKJ (Berkah Kopi Jaya).
Pemuda asal Lamongan itu mengatakan warkop tempatnya bekerja menerapkan sistem dua shift. Setiap penjaga bekerja selama 12 jam.
"Warkop ini buka 24 jam dengan sistem dua shift. Satu penjaga setiap shift selama 12 jam. Saya bertugas menerima pesanan, membuatkan pesanan, mengantar dan membersihkan setelah pelanggan selesai," kata Anas.
Menurut Anas, omzet warkop tersebut rata-rata mencapai sekitar Rp600 ribu per hari. Pada akhir pekan, omzetnya bisa meningkat hingga lebih dari Rp1 juta per hari.
Di sisi lain, Anas mengaku menerima upah sekitar Rp1,5 juta per bulan secara bersih atau take home pay. Nilai tersebut belum setara dengan Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK).
Namun, menurutnya, penghasilan tersebut masih cukup untuk memenuhi kebutuhan sebagai seorang lajang. Terlebih, pemilik warkop menyediakan tempat tidur dan ruang makan bagi penjaga. Selain itu, penjaga juga mendapatkan rokok dan kopi secara gratis.
Fenomena menjamurnya warkop menunjukkan bahwa usaha mikro tersebut tidak hanya berkembang sebagai tempat minum kopi, tetapi juga menjadi ruang interaksi sosial dan aktivitas ekonomi masyarakat di Surabaya. B

Komentar & Diskusi Pembaca
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!