JAKARTA - BEDAINNEWS.COM — Banyak jurnalis pemula mengira bahwa kesuksesan sebuah wawancara ditentukan sepenuhnya oleh seberapa tajam pertanyaan yang diajukan. Akibatnya, mereka sering kali terlalu sibuk memikirkan pertanyaan selanjutnya di dalam kepala, hingga mengabaikan apa yang sedang diucapkan oleh narasumber di hadapan mereka.
Dalam ilmu komunikasi jurnalistik modern, wawancara bukanlah sebuah interogasi satu arah, melainkan sebuah tarian dialog. Dan fondasi utama dari wawancara yang hidup adalah Mendengar Aktif (Active Listening).
3 Langkah Menguasai Teknik 'Active Listening' di Lapangan
1. Kuasai Seni Jeda (The Power of Silence)
Setelah narasumber menyelesaikan jawabannya, jangan langsung menyambar dengan pertanyaan berikutnya. Berikan jeda hening selama 2 hingga 3 detik.
- Efek Psikologis: Bagi kebanyakan orang, keheningan terasa tidak nyaman. Narasumber yang merasa ada ruang kosong di akhir kalimatnya sering kali merasa terdorong untuk melengkapinya dengan bocoran informasi tambahan yang lebih jujur atau spesifik.
- Praktik Lapangan: Biarkan narasumber merenung sejenak sebelum Anda melempar pertanyaan pendalaman berikutnya.
2. Tangkap 'Kutipan Emas' (Golden Quote) Lewat Kalimat Spontan
Narasumber elit atau pejabat biasanya berbicara menggunakan draf resmi atau bahasa birokrat yang kaku. Namun, di tengah wawancara, mereka sering kali lepas kendali dan menggunakan metafora atau kalimat spontan yang sangat kuat.
- Tugas Jurnalis: Pasang telinga tajam untuk menangkap kalimat-kalimat metaforis, analogi unik, atau nada emosi yang tulus. Kutipan inilah yang wajib dicatat verbatim (kata per kata) untuk dijadikan judul atau kutipan utama (pull quote) di berita Anda.
3. Gunakan Teknik Parafrase Konfirmasi (Reflective Feedback)
Jika narasumber menjelaskan data yang sangat rumit (misalnya regulasi keuangan atau teknis hukum), jangan langsung mengangguk jika belum paham. Ulangi intinya dengan bahasa Anda sendiri untuk memastikan tidak ada misinformasi.
- Contoh di Lapangan: "Izin menyederhanakan, Pak. Artinya, jika regulasi ini disahkan bulan depan, seluruh alokasi dana darurat otomatis dialihkan ke sektor infrastruktur ya, Pak?" Ini menunjukkan bahwa jurnalis benar-benar menyimak dengan serius.
Catatan Redaksi Bedainnews.com
"Mulut seorang jurnalis bertugas bertanya, namun telinga dan hatinya bertugas menyelami kebenaran. Wartawan yang hebat tahu persis kapan harus berbicara, dan kapan harus menjadi pendengar paling teliti di dunia."B
Dapatkan Peringatan Berita Terkini Langsung di WhatsApp Anda!
Bergabung bersama ribuan pembaca lainnya untuk mendapatkan update berita pilihan.

Komentar & Diskusi Pembaca
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!