MANADO - BEDAINNEWS.COM — Monumen Perang Dunia II berdiri kokoh di area kompleks Gereja GMIM Sentrum Kota Manado.
Bangunan bersejarah tersebut menjadi penanda penting jejak masa kolonial dan kecamuk Perang Pasifik di Sulawesi Utara.
Pantauan langsung jurnalis Bedainnews.com pada Selasa (27/10/2026) merekam keutuhan fisik monumen yang terawat rapi di area gereja.
Monumen ini mulai dibangun pada tahun 1946 saat masa pemerintahan NICA pasca-kehancuran Kota Manado akibat pertempuran.
Arsitek kenamaan asal Belanda, Ir. C. J. Uit den Bosch, merancang monumen tersebut sebagai penghormatan bagi para korban perang.
"Monumen ini menjadi sarana mengenang prajurit Sekutu, tentara Jepang, serta masyarakat sipil yang gugur," ujar pengelola kawasan, Selasa (27/10/2026).
Dapatkan Peringatan Berita Terkini Langsung di WhatsApp Anda!
Bergabung bersama ribuan pembaca lainnya untuk mendapatkan update berita pilihan.
Jejak Invasi Jepang 1942 dan Pengingat Kolektif Kota Manado
Pendirian monumen ini berkaitan erat dengan peristiwa penyerangan pasukan militer Jepang ke Manado pada 11 Januari 1942.
Letak geografis Kota Manado yang sangat strategis menjadikan kawasan ini incaran utama operasi militer Sekutu dan Jepang.
Pertempuran sengit di masa lalu menyebabkan kehancuran infrastruktur kota serta menelan banyak korban jiwa dari berbagai pihak.
Kini, keberadaan Tugu Perang Dunia II membuka ruang edukasi sejarah kolonial bagi warga lokal maupun wisatawan luar daerah. Situs sejarah di kompleks GMIM Sentrum ini terus berdiri sebagai pengingat kolektif akan masa lalu yang pernah mengguncang Manado.B

Komentar & Diskusi Pembaca
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!