NGANJUK - BEDAINNEWS.COM — Hamparan persawahan seluas ratusan hektar di Desa Sumengko, Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Nganjuk, kini didominasi oleh budidaya tanaman wijen (Sesamum indicum L.).
Tanaman yang dikenal sebagai bahan baku utama penghasil minyak nabati ini menjadi komoditas pilihan warga lokal pada Kamis (15/10/2026).
Meskipun potensi lahannya sangat membentang luas, para petani menyuarakan tantangan ekonomi terkait besarnya biaya sewa lahan serta tipisnya margin keuntungan.
salah seorang petani lokal, Bu Lilin, mengungkapkan bahwa lahan sawah seluas seperempat hektar membutuhkan sekitar 1 kilogram benih wijen.
Dari Luas lahan tersebut, proses panen mampu menghasilkan sekitar 2 kuintal wijen kering dengan harga jual pasaran Rp30.000 per kilogram.
Tingginya Biaya Sewa dan Tumpang Sari Labu
Dapatkan Peringatan Berita Terkini Langsung di WhatsApp Anda!
Bergabung bersama ribuan pembaca lainnya untuk mendapatkan update berita pilihan.
Untuk menggarap lahan persawahan tersebut, Bu Lilin harus membayar biaya sewa lahan mencapai Rp7.000.000 per tahun.
"Lahan sewa ini hanya bisa digunakan untuk tiga kali masa tanam dalam setahun," tutur Bu Lilin kepada awak media pada Kamis (15/10/2026).
Guna menutup tingginya biaya operasional, ia menerapkan sistem tumpang sari dengan menanam sayur labu di sela-sela wijen yang dijual seharga Rp2.000 per buah.
Ia menambahkan, jika pekerjaan dikerjakan menggunakan jasa buruh, hasilnya hanya pas-pasan, sementara jika digarap sendiri pun keuntungan yang didapat sangat minim.B

Komentar & Diskusi Pembaca
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!