PONTIANAK - Lebih dari sekadar singkatan biasa, KESATRIA mengusung akronim unik yang mudah diingat, yakni Kelapa Sawit Tumpang Sari Tanaman Pangan. Konsep utamanya adalah memaksimalkan fungsi lahan dengan menyisipkan komoditas pangan berumur pendek—seperti padi gogo, jagung, dan kedelai (PAJALE)—sebelum kanopi tanaman utama seperti sawit atau kelapa saling menutupi. Pendekatan tumpang sari ini sebenarnya bukan hal baru, mengingat metode serupa telah lama diterapkan di bawah tegakan pohon jati di Pulau Jawa.
Diinisiasi oleh Kementerian Pertanian RI melalui Direktorat Jenderal Perkebunan, KESATRIA lahir sebagai megaproyek untuk mengoptimalkan setengah juta hektare lahan perkebunan di seluruh Indonesia. Mengincar produksi hingga satu juta ton Gabah Kering Panen (GKP), program ini resmi diluncurkan pada awal 2024 dengan titik awal (kick-off) di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan.
Fokus implementasinya menyasar perkebunan sawit fase Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) usia satu hingga tiga tahun, serta area Perkebunan Sawit Rakyat (PSR) yang wajib diremajakan (replanting) akibat usia tua atau produktivitas anjlok. Dengan potensi lahan TBM nasional yang menembus angka 1,6 juta hektare, program ini menjadi instrumen krusial untuk Perluasan Areal Tanam (PAT) komoditas PAJALE. Efek gandanya sangat jelas: menjaga ketahanan pangan berkelanjutan, menekan pertumbuhan gulma di kebun, dan yang terpenting, menyuntikkan pendapatan tambahan bagi petani PSR selama masa tunggu panen sawit.
Khusus di Provinsi Kalimantan Barat, gebrakan KESATRIA mulai dieksekusi di Kabupaten Kubu Raya pada 2024. Sebagai raksasa sawit terbesar kedua di Indonesia setelah Riau, Kalbar memiliki hamparan perkebunan seluas 2,176 juta hektare. Dari total 706.355 hektare lahan PSR di wilayah ini, tercatat ada 41.450 hektare kebun tua dan rusak yang sangat membutuhkan peremajaan. Angka ini jelas menjadi kanvas raksasa bagi penerapan tumpang sari tanaman pangan.
Secara strategis, inisiatif ini dirancang untuk mempertahankan tren swasembada beras yang ditargetkan pada 2025, yang berujung pada pemangkasan volume impor nasional. KESATRIA juga bertindak sebagai pilar penyokong intensifikasi pertanian, mendongkrak indeks pertanaman (IP), serta mendukung optimalisasi lahan dan cetak sawah rakyat (CSR). Peluang suksesnya sangat tinggi, mengingat peremajaan PSR telah berstatus Program Strategis Nasional (PSN) sejak 2017 dan mendapat kucuran dana segar dari Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS).
Untuk meraup hasil maksimal di Kalimantan Barat, KESATRIA membutuhkan sokongan ekosistem yang komprehensif. Mulai dari distribusi benih unggul bersertifikat, pupuk, pestisida, hingga alat mesin pertanian (alsintan) yang memadai. Peningkatan kapasitas SDM, akses permodalan, adaptasi teknologi, dan penetrasi pasar juga menjadi syarat mutlak. Di samping itu, sinergi lintas sektor dan pengawalan intensif dari Penyuluh Pertanian (PP) di bawah naungan PERHIPTANI Kalbar sangat krusial. Para pengamat sepakat bahwa manuver ini menciptakan momentum emas bagi program ketahanan jangka panjang, di mana publik diajak untuk terus mengawal progresnya melalui pembaruan informasi eksklusif di BedainNews.B
Dapatkan Peringatan Berita Terkini Langsung di WhatsApp Anda!
Bergabung bersama ribuan pembaca lainnya untuk mendapatkan update berita pilihan.

Komentar & Diskusi Pembaca
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!