SANGIHE - BEDAINNEWS.COM ā Di balik deru mesin sepeda motor dan hilir mudik warga di kawasan Pasar Lama Petta, Kecamatan Tabukan Utara, Kabupaten Kepulauan Sangihe, tersimpan kisah keteguhan para pejuang nafkah keluarga.
Para tukang ojek yang tergabung di Pangkalan Ojek Petta Raya harus berjuang lebih keras melintasi medan ekonomi yang kian menantang. Penghasilan harian yang semakin tidak menentu kini menjadi realitas pahit yang harus mereka hadapi saban hari.
Ketua Pangkalan Ojek Petta Raya, Gobel (55), warga Kampung Naha, mengungkapkan bahwa saat ini ada sekitar 50 anggota aktif yang menggantungkan hidup keluarga sepenuhnya dari profesi mengayuh roda dua tersebut.
"Kalau keadaan sepi, pendapatan sehari hanya Rp30.000, bahkan pernah tidak ada sama sekali. Kalau ramai atau ada langganan, bisa sampai Rp150.000 dari pagi sampai malam," tutur Gobel saat ditemui di pangkalan, Sabtu (17/10/2026) pukul 22.00 WITA.
Dampak Anjloknya Harga Kopra dan Rincian Tarif
Penurunan pendapatan ojek terasa kian berat karena berantai dengan lesunya perekonomian warga lokal, khususnya penurunan harga komoditas utama daerah yaitu kopra.
Gobel menyebutkan, harga kopra di tingkat petani yang sebelumnya mencapai Rp1.335.000 per 100 kilogram kini merosot ke angka Rp1.250.000. Anjloknya harga hasil bumi ini berdampak langsung pada daya beli masyarakat, yang akhirnya memangkas frekuensi warga menggunakan jasa transportasi ojek.
Dapatkan Peringatan Berita Terkini Langsung di WhatsApp Anda!
Bergabung bersama ribuan pembaca lainnya untuk mendapatkan update berita pilihan.
Padahal, dari pendapatan harian tersebut, para tukang ojek harus menyokong kebutuhan rumah tangga hingga membiayai kuliah anak-anak mereka di perguruan tinggi.
Untuk tarif jasa, Pangkalan Petta Raya memberlakukan tarif berdasar jarak perjalanan:
- Lokal Tabukan Utara (Kampung Bowongkulu, Tola, Naha): Rp15.000.
- Petta menuju Pusat Kota Tahuna: Rp35.000 (sekali jalan).
- Petta menuju Pelabuhan Tahuna: Rp50.000 (sekali jalan).
- Layanan Pulang-Pergi (Urus Tiket/Keperluan): Rp100.000.
Kehangatan Solidaritas di Tengah Keterbatasan
Meski berhadapan dengan keterbatasan finansial, kebersamaan di Pangkalan Ojek Petta Raya tidak pernah luntur. Jiwa korsa dan kepedulian sosial justru menjadi benteng utama mereka dalam merawat rasa persaudaraan.
Para anggota secara konsisten menggalang arisan serta aksi sosial. Jika ada anggota yang sakit atau tertimpa duka keluarga meninggal dunia, bantuan tunai segera disalurkan dari patungan sukarela dan dana kas pangkalan.
Kebersamaan ini juga nyata saat anggota menggelar hajatan keluarga seperti doa bersama atau pesta pernikahan, di mana rekan-rekan pangkalan bergotong royong menyumbangkan bantuan logistik berupa minuman kemasan.
Bagi 50 penarik ojek di Petta Raya, setiap penumpang yang naik ke jok belakang sepeda motor mereka bukan sekadar transaksi rupiah, melainkan secercah harapan untuk membawa pulang beras dan biaya sekolah anak di rumah.B

Komentar & Diskusi Pembaca
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!