PALU - BEDAINNEWS.COM — Di balik kerapian sudut kota dan rindangnya pepohonan di Kota Palu, Sulawesi Tengah, tersimpan kisah perjuangan penuh risiko dari para pekerja informal. Salah seorang warga, Irham (45), telah menggantungkan hidupnya selama 15 tahun sebagai penyedia jasa penebang pohon ekstrem demi menyambung hidup keluarga, Selasa (13/10/2026).
Bagi Irham, setiap jam kerja di atas ketinggian dahan adalah pertaruhan antara keselamatan jiwa dan tanggung jawab menafkahi istri serta kedua anaknya.
Ancaman Keselamatan Fisik Dan Jaringan Listrik
Profesi jasa penebangan pohon menuntut keahlian serta tingkat kewaspadaan tinggi. Selain ancaman terjatuh dari ketinggian dan sabetan mesin gergaji (chainsaw), potensi kesalahan memperkirakan arah rebah pohon dapat merusak kendaraan, pagar, hingga rumah warga sekitar.
Tak hanya itu, pengerjaan dahan yang dekat dengan jaringan kabel PLN menyimpan bahaya sengatan listrik serta risiko tuntutan ganti rugi apabila timbul kerusakan fasilitas umum.
Upah Rata-Rata Dan Keterbatasan Peralatan Kerja
Dapatkan Peringatan Berita Terkini Langsung di WhatsApp Anda!
Bergabung bersama ribuan pembaca lainnya untuk mendapatkan update berita pilihan.
Di tengah himpitan risiko maut tersebut, Irham rata-rata menerima tiga kali pesanan penebangan dalam sepekan. Honor yang ia terima berkisar antara Rp200.000 hingga Rp300.000 per pohon, tergantung tingkat kesulitan dan ukuran batang.
"Walaupun risikonya sangat besar dengan taruhan nyawa, pekerjaan ini tetap harus saya kerjakan demi menafkahi istri dan kedua anak saya," ungkap Irham.
Untuk menutupi kebutuhan dapur, Irham kerap mengolah sisa kayu menjadi arang untuk dijual ke pasar tradisional. Hingga kini, ia masih meminjam mesin gergaji milik kerabat sembari terus mengumpulkan modal agar bisa memiliki peralatan kerja mandiri di masa depan.B

Komentar & Diskusi Pembaca
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!