SANGIHE - BEDAINNEWS.COM — Di balik renyahnya kue tradisional khas Kepulauan Sangihe yang diminati hingga ke luar daerah, tersimpan perjuangan keras para perajin rumahan. Mereka harus memutar otak untuk mempertahankan usaha di tengah kenaikan harga bahan baku dan kelangkaan pasokan sagu.
Dalna, seorang perajin kue asal Kampung Tola, Kecamatan Tabukan Utara, Kabupaten Kepulauan Sangihe, mengungkapkan bahwa lini produksi kue kering seperti bangket, bagea, speku, dan kue gulung kini diuji oleh membengkaknya biaya produksi, Jumat (9/10/2026).
Dampak Krisis Musim Kemarau
Lonjakan harga paling signifikan dirasakan pada bahan utama sagu. Harga yang sebelumnya berkisar Rp150.000 per karung ukuran 20 kilogram, kini meroket hingga mencapai Rp300.000.
Tidak hanya mahal, ketersediaannya pun semakin sulit diperoleh akibat dampak musim kekeringan yang melanda wilayah Sangihe dalam beberapa bulan terakhir.
Selain sagu, kenaikan harga turut merembet pada komponen kemasan plastik, bumbu dapur, telur, hingga kelapa.
Dapatkan Peringatan Berita Terkini Langsung di WhatsApp Anda!
Bergabung bersama ribuan pembaca lainnya untuk mendapatkan update berita pilihan.
Meski demikian, Dalna bersama perajin lainnya tetap berusaha memproduksi hingga 150 bungkus kue per hari guna memenuhi pesanan lokal maupun kiriman ke luar daerah seperti Jakarta.
Para perajin berharap adanya kestabilan harga bahan pokok serta perhatian serius dari pemerintah daerah agar warisan kuliner khas Sangihe ini tetap bertahan di tengah gempuran tantangan ekonomi.B

Komentar & Diskusi Pembaca
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!