Today | Kamis, 5 November 2026
TOPIK HANGAT
Selamat datang di Bedain News — Portal Berita Terpercaya
Alih Bahasa Berita (AI):
Ekonomi & Bisnis

Strategi Pengrajin Tahu Bertahan Menghadapi Lonjakan Bahan Baku

Kontributor: Redaksi Bedain|Editor: Redaksi Bedain|
Minggu, 27 September 2026 pukul 08.36 WIB
|
1 menit baca
Strategi Pengrajin Tahu Bertahan Menghadapi Lonjakan Bahan Baku
Sejumlah pekerja tengah memproses dan memindahkan adonan tahu di dalam pabrik Tahu Afifah, Kota Palu, Sulawesi Tengah, Ahad (27/9/2026). (Ft : Bedainnews/ Ibrahim Aji)
🚀 SLOT MITRA & SPONSOR

Perluas Jangkauan Bisnis & Brand Anda Bersama Kami

Tempatkan iklan usaha, banner, atau advertorial Anda di hadapan pembaca setia Bedain News.

Hubungi Redaksi
Dengarkan Berita AI
Dengarkan isi artikel layaknya podcast saat Anda sedang beraktivitas.
Kecepatan:
BEDAINNEWS.COM — Pelaku usaha mikro pembuatan Tahu...
⚡ 3 DETIK PAHAMIntisari Berita

Poin Kunci Yang Perlu Anda Tahu

1

Guna menjaga kelangsungan produksi saat terjadi pemadaman listrik harian, Yudi terpaksa mengoperasikan mesin pembangkit daya (genset).

2

Langkah ini memicu persoalan baru lantaran pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar sulit didapatkan di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) resmi.

3

Kondisi tersebut memaksa pengelola pabrik membeli solar dari pedagang eceran dengan harga membumbung tinggi.

Dirangkum otomatis untuk baca kilatGulir ke bawah untuk naskah lengkap

PALU - SULTENG - BEDAINNEWS.COM — Pelaku usaha mikro pembuatan Tahu Afifah di Kota Palu, Mas Yudi (50), mengeluhkan tingginya beban biaya operasional akibat gempuran pemadaman listrik berkala dan lonjakan harga bahan baku kedelai impor di kawasan Sulawesi Tengah.

Guna menjaga kelangsungan produksi saat terjadi pemadaman listrik harian, Yudi terpaksa mengoperasikan mesin pembangkit daya (genset). Langkah ini memicu persoalan baru lantaran pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar sulit didapatkan di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) resmi.

Kondisi tersebut memaksa pengelola pabrik membeli solar dari pedagang eceran dengan harga membumbung tinggi. Bila pemadaman terjadi sehari penuh, proses pencetakan tahu menyedot hingga tiga galon solar.

"Kita biasa setengah mati ambil di Pertamina karena ketatnya, jadi kita ambil eceran. Bahkan satu galon itu harganya sudah mencapai Rp600 ribu," kata Yudi, Minggu (27/9/26).

Tekanan produksi kian berat seiring melonjaknya harga bahan baku utama kedelai yang kini menembus Rp12.700 per kilogram. Situasi ini memicu penyesuaian harga jual di tingkat konsumen, di mana tahu per cetakan talang dibanderol Rp50.000, sedangkan kemasan eceran plastik dijual Rp5.000.

Meski diterpa pembengkakan biaya bahan baku dan energi, Yudi memastikan daya beli masyarakat lokal masih menopang keberlanjutan usahanya.

📲 KOMUNITAS RESMI BEDAIN NEWS

Dapatkan Peringatan Berita Terkini Langsung di WhatsApp Anda!

Bergabung bersama ribuan pembaca lainnya untuk mendapatkan update berita pilihan.

Gabung WhatsApp

Pihaknya mendesak pemerintah daerah dan instansi terkait memberikan kemudahan akses pembelian BBM bersubsidi bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) agar sektor produksi pangan lokal tidak terancam gulung tikar.

Kontributor : Ibrahim Aji (Palu- Sulteng)

Kontributor: Redaksi Bedain|Editor: Redaksi Bedain
TOPIK:BahanTahuBakuYudiPALU - SULTENG
Dukungan Pembaca 100% Untuk Riset Redaksi

Dukung Jurnalisme Independen Bedain News

Bantu tim redaksi kami tetap menyajikan berita berimbang, tajam, dan bebas pengaruh dengan mentraktir secangkir kopi.

PILIH PAKET APRESIASI:Dukungan segar untuk 1 laporan independen
Traktir Rp 15.000 Sekarang QRIS • GoPay • OVO • Dana • ShopeePay
✨ RESPONS PEMBACA

Bagaimana reaksi Anda terhadap artikel ini?

1 pembaca telah memberikan respons

Komentar & Diskusi Pembaca

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Memuat komentar...