PALU - SULTENG - BEDAINNEWS.COM — Pelaku usaha mikro pembuatan Tahu Afifah di Kota Palu, Mas Yudi (50), mengeluhkan tingginya beban biaya operasional akibat gempuran pemadaman listrik berkala dan lonjakan harga bahan baku kedelai impor di kawasan Sulawesi Tengah.
Guna menjaga kelangsungan produksi saat terjadi pemadaman listrik harian, Yudi terpaksa mengoperasikan mesin pembangkit daya (genset). Langkah ini memicu persoalan baru lantaran pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar sulit didapatkan di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) resmi.
Kondisi tersebut memaksa pengelola pabrik membeli solar dari pedagang eceran dengan harga membumbung tinggi. Bila pemadaman terjadi sehari penuh, proses pencetakan tahu menyedot hingga tiga galon solar.
"Kita biasa setengah mati ambil di Pertamina karena ketatnya, jadi kita ambil eceran. Bahkan satu galon itu harganya sudah mencapai Rp600 ribu," kata Yudi, Minggu (27/9/26).
Tekanan produksi kian berat seiring melonjaknya harga bahan baku utama kedelai yang kini menembus Rp12.700 per kilogram. Situasi ini memicu penyesuaian harga jual di tingkat konsumen, di mana tahu per cetakan talang dibanderol Rp50.000, sedangkan kemasan eceran plastik dijual Rp5.000.
Meski diterpa pembengkakan biaya bahan baku dan energi, Yudi memastikan daya beli masyarakat lokal masih menopang keberlanjutan usahanya.
Dapatkan Peringatan Berita Terkini Langsung di WhatsApp Anda!
Bergabung bersama ribuan pembaca lainnya untuk mendapatkan update berita pilihan.
Pihaknya mendesak pemerintah daerah dan instansi terkait memberikan kemudahan akses pembelian BBM bersubsidi bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) agar sektor produksi pangan lokal tidak terancam gulung tikar.
Kontributor : Ibrahim Aji (Palu- Sulteng)

Komentar & Diskusi Pembaca
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!