SOLOK - BEDAINNEWS.COM — Sejumlah pemilik kendaraan roda empat di Sumatera Barat mengeluhkan gangguan mesin setelah mengisi bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU). Beberapa kendaraan dilaporkan mogok mendadak dan harus menjalani pemeriksaan di bengkel.
Pemilik kendaraan mengaku menemukan endapan tebal berwarna keabu-abuan yang disebut menyerupai adonan semen pada saringan bahan bakar (fuel filter) dan pompa bahan bakar (fuel pump) setelah tangki kendaraan dibongkar.
Temuan tersebut menimbulkan kekhawatiran di kalangan konsumen. Sejumlah komponen sistem bahan bakar dilaporkan harus diganti untuk memulihkan kinerja kendaraan. Namun, penyebab pasti munculnya endapan tersebut masih perlu dipastikan melalui pemeriksaan teknis dan pengujian sampel BBM.
Biaya Perbaikan Memberatkan Konsumen
Keluhan ini turut menimbulkan kerugian finansial bagi pemilik kendaraan, terutama masyarakat yang mengandalkan Pertalite untuk menunjang aktivitas sehari-hari.
Biaya penggantian pompa bahan bakar, filter, serta jasa pembongkaran tangki disebut berkisar Rp500.000 hingga lebih dari Rp1 juta, bergantung pada jenis kendaraan dan tingkat kerusakan.
Selain biaya perbaikan, konsumen juga mengaku harus membuang BBM yang tersimpan di dalam tangki karena dikhawatirkan telah terkontaminasi. Jumlah BBM yang terbuang disebut mencapai puluhan liter pada sejumlah kasus.
Dapatkan Peringatan Berita Terkini Langsung di WhatsApp Anda!
Bergabung bersama ribuan pembaca lainnya untuk mendapatkan update berita pilihan.
Sebagian konsumen juga mempertimbangkan beralih ke Pertamax untuk menghindari kekhawatiran terhadap kerusakan berulang. Namun, penggunaan BBM nonsubsidi tersebut menambah pengeluaran harian mereka.
Konsumen Pertanyakan Penanganan Pertamina
Kondisi tersebut memicu kekecewaan sejumlah konsumen terhadap penanganan keluhan kualitas Pertalite di wilayah Sumatera Barat. Mereka menilai perlu ada langkah konkret untuk memastikan kualitas BBM yang beredar sekaligus mencegah kerugian serupa terulang.
Salah seorang konsumen yang mengaku terdampak mempertanyakan belum adanya langkah yang dinilainya memadai untuk memberikan kepastian kepada masyarakat.
“Seakan-akan Pertamina Sumbar membiarkan konsumen tetap menggunakan Pertalite bermasalah tanpa ada langkah konkret berupa penarikan atau penghentian distribusi sementara. Masyarakat justru terkesan harus menanggung sendiri risiko kerusakan kendaraan mereka,” ujarnya.
Konsumen juga menyoroti mekanisme pengajuan ganti rugi atau kompensasi. Proses klaim disebut rumit dan membutuhkan waktu lama, sementara kepastian penyelesaiannya dinilai belum jelas.
Keluhan tersebut perlu ditindaklanjuti dengan penjelasan terbuka mengenai prosedur pengaduan, persyaratan klaim, serta mekanisme pemeriksaan untuk menentukan penyebab kerusakan kendaraan.
Desak Investigasi dan Kompensasi
Persoalan ini mendorong desakan agar kualitas Pertalite yang beredar di Sumatera Barat diperiksa secara menyeluruh. Konsumen meminta adanya pemeriksaan independen terhadap rantai distribusi BBM, mulai dari fasilitas penyimpanan hingga tangki penyimpanan di SPBU.
Mereka juga meminta Pertamina menyediakan mekanisme kompensasi yang mudah diakses, transparan, dan memiliki kepastian waktu penyelesaian bagi konsumen yang terbukti mengalami kerugian akibat masalah kualitas BBM.
Selain itu, pengawasan mutu di seluruh titik distribusi dinilai perlu diperkuat. Apabila ditemukan BBM yang tidak memenuhi standar, penanganan harus dilakukan sesuai hasil pemeriksaan dan ketentuan yang berlaku.
Hingga berita ini disusun, penyebab pasti munculnya endapan pada komponen kendaraan tersebut belum dapat dipastikan berdasarkan informasi yang tersedia. Konfirmasi dari pihak Pertamina mengenai keluhan konsumen, hasil pemeriksaan kualitas BBM, serta mekanisme ganti rugi diperlukan agar persoalan ini dapat diketahui secara menyeluruh. B

Komentar & Diskusi Pembaca
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!