INDRAMAYU, BEDAINNEWS.COM -Di sebuah rumah sederhana, Kardono menjalani kesehariannya dengan bahan-bahan dari alam yang sudah begitu akrab dengan tangannya.
Kulit pohon daluwang menjadi salah satu bahan yang di olah dengan ketekunan hingga berubah menjadi lembaran kertas tradisional.
Tidak ada ruang kerja dengan peralatan yang serba modern. Kardono lebih banyak mengandalkan keterampilan tangan, dan pengalaman yang dikumpulkannya selama bertahun-tahun.
Dari tempat yang sederhana itulah, ia menghasilkan kertas daluang yang memiliki nilai sejarah dan budaya. Pria kelahiran 21 November 1982 tersebut merupakan lulusan sekolah dasar (SD).
Ia tidak sempat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, namun, berhentinya pendidikan formal tidak membuat langkahnya untuk belajar ikut berhenti.
Sekitar tahun 2020, Kardono mulai menekuni pembuatan kertas daluang. Ia belajar secara otodidak, mulai mengenal bahan, mencoba berbagai tahapan pengolahan, hingga memahami bagaimana menghasilkan kertas tradisional yang dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan.
Dapatkan Peringatan Berita Terkini Langsung di WhatsApp Anda!
Bergabung bersama ribuan pembaca lainnya untuk mendapatkan update berita pilihan.
Proses itu dilalui dengan kesabaran. Berkali-kali mencoba menjadi bagian dari perjalanan Kardono. Dari pengalaman tersebut, ia tidak hanya mendapatkan keterampilan, tetapi juga menemukan bidang yang kemudian terus ditekuninya hingga sekarang.
โMulai belajar membuat kertas daluang itu sekitar tahun 2020. Saya belajar secara otodidak, dari mencoba sendiri dan dari pengalaman. Lama-lama saya semakin memahami prosesnya,โ ujar Kardono.

Sala satu hasil karya Kardono
Keterampilan yang dimilikinya kemudian membawa Kardono bertemu dengan lingkungan akademik. Ia pernah diundang ke sejumlah perguruan tinggi untuk memberikan pelajaran dan berbagi keterampilan yang dimilikinya kepada mahasiswa.
Beberapa perguruan tinggi yang pernah dikunjunginya antara lain Universitas Gadjah Mada (UGM), UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, serta Universitas Indonesia.
Dalam kesempatan tersebut, Kardono berbagi pengetahuan mengenai pembuatan kertas daluang dan bahan-bahan tradisional yang selama ini ditekuninya. Kesempatan untuk kembali berbagi ilmu juga akan dijalani Kardono pada 6 Oktober 2026.
Ia mendapat undangan dari salah satu fakultas di Universitas Indonesia (UI), Depok, untuk memberikan pembelajaran mengenai pembuatan kertas daluang kepada mahasiswa. Bagi Kardono, undangan tersebut menjadi pengalaman yang berarti.
Seorang lulusan SD yang mempelajari keterampilan secara otodidak dari rumah sederhana kini mendapat kesempatan untuk berbagi pengetahuan kepada mahasiswa di lingkungan perguruan tinggi.
Selain membuat kertas daluang, Kardono juga mengembangkan keterampilan membuat daun lontar serta menerjemahkan aksara Jawa. Kemampuan tersebut ia pelajari secara otodidak dan terus diasah melalui pengalaman serta interaksi dengan berbagai kalangan.
Setelah sekitar tiga tahun menekuni pembuatan kertas tradisional, pada 2023 Kardono mulai memasarkan hasil produksinya. Dari keterampilan yang awalnya dipelajari untuk menambah pengetahuan, ia kemudian berusaha menjadikannya sebagai karya yang dapat dimanfaatkan dan dikenal oleh masyarakat.
โBuat saya, sekolah itu penting. Tapi kalau seseorang tidak punya kesempatan melanjutkan sekolah, jangan kemudian merasa tidak bisa apa-apa. Kita tetap bisa belajar dari pengalaman, dari orang lain, dan dari keterampilan yang kita tekuni,โ kata Kardono.
Di balik kesederhanaan tempatnya berkarya, Kardono menyimpan harapan agar pengetahuan tentang kertas daluang, daun lontar, dan aksara Jawa tidak hilang begitu saja.
Ia ingin keterampilan tersebut tetap dikenal dan dipelajari, terutama oleh generasi yang akan datang.
Kisah Kardono bukan tentang seberapa tinggi pendidikan yang berhasil ditempuh seseorang, melainkan tentang bagaimana kemauan untuk belajar tetap dapat tumbuh meski kesempatan pendidikan formal terbatas. Ia membuktikannya melalui tangan sendiri, dari mencoba hingga akhirnya mampu berbagi ilmu kepada orang lain.
Bagi mereka yang pernah putus sekolah atau tidak sempat merasakan pendidikan tinggi, perjalanan Kardono membawa pesan sederhana: jangan berhenti berharap.
Ketika satu jalan tertutup, masih ada kesempatan untuk belajar melalui jalan lain. Dari rumah sederhana tempat ia mengolah pohon daluwang, Kardono terus melangkah.
Lembar demi lembar kertas yang dihasilkannya seolah menjadi catatan perjalanan hidupnya sendiri, bahwa pendidikan formal boleh memiliki batas, tetapi keinginan untuk belajar dan berkarya tidak harus ikut berakhir.

Komentar & Diskusi Pembaca
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!