PARIAMAN - BEDAINNEWS.COM - Pemandangan miris sekaligus ironis tersaji di pesisir Pantai Pauh, Kecamatan Pariaman Tengah, Kota Pariaman, Sumatra Barat, pada Minggu (11/10/2026).
Sebuah onggokan besi raksasa yang dipenuhi karat tebal tampak bersandar tak berdaya di bibir pantai, menjadi saksi bisu atas mangkraknya ambisi besar pembangunan Museum Bahari Terapung.
Besi berkarat tersebut bukanlah rongsokan biasa, melainkan sosok veteran Perang Dunia II yang sangat bersejarah, yakni KRI Teluk Bone 511. Kapal perang legendaris yang pernah membelah samudra ini kini bernasib tragis, terabaikan, dan dibiarkan membusuk tergerus ganasnya ombak serta kejamnya waktu.
Jejak sejarah kapal pendarat tank (Landing Ship Tank/LST) ini sejatinya sangat panjang dan membanggakan. Diproduksi oleh galangan kapal American Bridge Company di Pennsylvania pada 25 September 1944, kapal ini awalnya beroperasi di bawah bendera Amerika Serikat dengan nama USS LST-839.
Pemerintah Amerika Serikat kemudian menyerahkan kapal ini kepada pemerintah Indonesia pada Juli 1970, sebelum akhirnya resmi memperkuat armada tempur TNI Angkatan Laut sejak 12 Desember 1970.
Setelah setia mengabdi dalam menjaga kedaulatan maritim Indonesia selama hampir lima dekade, TNI AL memensiunkan KRI Teluk Bone 511 pada 15 Agustus 2019. Kapal sarat nilai historis ini lantas dihibahkan kepada Pemerintah Kota (Pemko) Pariaman dengan harapan mulia untuk dilestarikan, dan tiba di perairan Pariaman pada akhir September 2023.
Dapatkan Peringatan Berita Terkini Langsung di WhatsApp Anda!
Bergabung bersama ribuan pembaca lainnya untuk mendapatkan update berita pilihan.
Kegagalan Eksekusi Aset dan Ketiadaan Visi Pelestarian Sejarah
Pada mulanya, Pemko Pariaman bertekad menyulap KRI Teluk Bone 511 menjadi Museum Bahari Terapung pertama di Indonesia. Proyek prestisius ini digadang-gadang akan menjadi sarana edukasi sejarah maritim yang interaktif, sekaligus magnet pariwisata baru yang potensial untuk membangkitkan kebanggaan generasi muda terhadap kejayaan laut Nusantara.
Namun, realitas di lapangan justru berbanding terbalik dengan wacana megah tersebut. Hingga saat ini, KRI Teluk Bone 511 teronggok mengenaskan tanpa sentuhan perawatan sedikit pun. Kapal yang seharusnya menjadi monumen hidup ini dibiarkan hancur perlahan akibat korosi parah dan abrasi di pesisir pantai, seolah kehilangan martabatnya sebagai mantan armada tempur negara.
Kegagalan dalam mengeksekusi rencana Museum Bahari Terapung ini secara telanjang mencerminkan buruknya perencanaan strategis, minimnya alokasi anggaran, dan lemahnya tata kelola aset oleh Pemko Pariaman.
Penerimaan hibah aset raksasa tanpa dibarengi kesiapan infrastruktur dan finansial yang matang adalah sebuah kecerobohan birokrasi. Kapal veteran perang yang seharusnya menjadi ikon kebanggaan dan pendongkrak ekonomi daerah, kini justru beralih fungsi menjadi bangkai besi tua berkarat yang tidak hanya mencoreng wibawa pariwisata daerah, tetapi juga berpotensi mencemari ekosistem pesisir setempat.
Jika tidak segera ada intervensi dan evaluasi dari pihak terkait, sejarah panjang KRI Teluk Bone 511 hanya akan terkubur sia-sia di bawah pasir Pantai Pauh. B

Komentar & Diskusi Pembaca
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!