SURABAYA - BEDAINNEWS.COM ā Di bawah terik matahari sore yang membakar sudut Kota Surabaya, sesosok tubuh renta berdiri teguh di simpang empat lampu merah RS William Booth. Di tengah hiruk-pikuk pengendara yang sibuk menatap layar smartphone, Kakek Benny Haji Nur (99) justru setia memegang lembaran koran cetak, Rabu (14/10/2026).
Pria kelahiran tahun 1927 yang usianya kini hampir genap satu abad tersebut merupakan salah satu penjaja media cetak terakhir yang masih bertahan di era digital.
Dua Ribu Rupiah Demi Kehormatan Diri
Setiap pagi, anak Kakek Nur mengambil pasokan koran harian tidak lebih dari 15 hingga 20 eksemplar. Dari setiap lembar koran yang berhasil dijual hingga sore hari, ia hanya mengantongi keuntungan bersih Rp2.000 per eksemplar.
Saat ditanya alasan masih bertahan mengais rezeki di jalanan pada usia lanjut, jawaban Kakek Nur sangat menyentuh hati nurani.
"Dengan usia hampir satu abad ini, saya pokoknya bisa makan. Tidak mengemis atau mengamen karena rawan terkena razia Satpol PP. Saya jalani sebisa mungkin berjualan koran," tutur Kakek Nur dengan nada tenang.
Dapatkan Peringatan Berita Terkini Langsung di WhatsApp Anda!
Bergabung bersama ribuan pembaca lainnya untuk mendapatkan update berita pilihan.
Paradoks Zaman dan Pertanyaan Konstitusi
Pemandangan Kakek Nur menyajikan fenomena paradoks yang mendalam. Di satu sisi, industri media cetak yang kerap dinilai mulai senja justru menjadi sandaran hidup bagi seorang lansia demi menyambung nyawa tanpa harus meminta-minta.
Di sisi lain, potret perjuangan Kakek Nur menyisakan pertanyaan besar terkait kehadiran negara dalam menjalankan amanat konstitusi untuk melindungi dan menjamin kesejahteraan warga usia lanjut (elderly care). Keharusan bekerja fisik di jalanan pada usia 99 tahun mencerminkan ruang perlindungan sosial yang masih perlu dibenahi.B

Komentar & Diskusi Pembaca
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!