JAKARTA - BEDAINNEWS.COM — Di tengah derasnya arus informasi dan kompetisi kecepatan publikasi, tantangan terbesar jurnalisme di lapangan kerap kali terletak pada bagaimana seorang wartawan berkomunikasi dengan narasumbernya.
Banyak fakta lapangan menunjukkan adanya jurang komunikasi yang timpang, di mana wartawan rentan bersikap dominan saat berhadapan dengan masyarakat bawah, namun mendadak kehilangan taji atau justru bersikap agresif tanpa data di hadapan pejabat tinggi.
Guna menjaga marwah pers Indonesia, pemahaman etika komunikasi yang dipadukan dengan ilmu psikologi massa menjadi instrumen krusial bagi setiap insan pers di semua tingkatan.
Menghadapi Masyarakat Bawah: Menjaga Empati dan Mencegah Trauma
Saat berhadapan dengan warga awam, korban bencana, maupun kelompok rentan, jurnalis diuji pada titik sensitivitas kemanusiaan tertinggi. Dalam perspektif psikologi massa, kelompok ini berada dalam kondisi mental yang tertekan (vulnerable state).
Kesalahan fatal yang sering dilakukan jurnalis adalah mengajukan pertanyaan sensasional yang mengeksploitasi penderitaan. Kondisi ini secara psikologis memaksa korban merekonstruksi rasa sakit secara emosional (retraumatization).
Dapatkan Peringatan Berita Terkini Langsung di WhatsApp Anda!
Bergabung bersama ribuan pembaca lainnya untuk mendapatkan update berita pilihan.
Etika komunikasi berbasis psikologi mengarahkan wartawan untuk mengubah fokus pertanyaan dari eksplorasi trauma ke kebutuhan nyata publik (actionable info). Pendekatan berempati ini menempatkan jurnalis sebagai penyambung lidah masyarakat yang fungsional dan bermoral.
Menghadapi Pejabat Tinggi: Menguji Kebijakan Berbekal Data
Saat memasuki ruang liputan elite publik atau pejabat tinggi, pendekatan yang digunakan tentu berbeda. Pejabat publik umumnya memiliki refleks pertahanan diri (defense mechanism) yang kuat dan terlatih mengendalikan alur pembicaraan.
Kesalahan wartawan di area ini kerap terbagi ke dalam dua kutub ekstrem, yakni menjadi terlalu pasif atau bersikap menyerang pribadi narasumber (ad hominem) tanpa dasar data yang kuat.
Psikologi kontrol dalam wawancara elite menegaskan bahwa pejabat hanya bisa dikunci oleh fakta, dokumen, dan angka. Jika pejabat memberikan jawaban mengambang, jurnalis berkelas melakukan teknik re-anchoring untuk mengembalikan narasumber ke pertanyaan inti secara tenang, terukur, dan santun.
Dua Sisi Mata Uang Integritas Pers
Komunikasi jurnalistik yang profesional bukanlah tentang seberapa keras seorang wartawan menekan narasumbernya, melainkan seberapa dalam riset yang dilakukannya dan seberapa tinggi ia menghargai hak-hak publik atas informasi yang jujur.
Di hadapan narasumber rentan, jurnalis hadir sebagai pelindung martabat dengan berbekal empati. Sementara di hadapan kekuasaan, jurnalis bertindak sebagai penguji kebenaran dengan berbekal data.B

Komentar & Diskusi Pembaca
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!