Today | Kamis, 5 November 2026
TOPIK HANGAT
Selamat datang di Bedain News — Portal Berita Terpercaya
Alih Bahasa Berita (AI):
Berita

Seni Komunikasi Jurnalis: Etika & Psikologi Hadapi Narasumber

Kontributor: Mahmud Marhaba |Editor: Redaksi Bedain|
Kamis, 15 Oktober 2026 pukul 02.10 WIB
|
1 menit baca
Seni Komunikasi Jurnalis: Etika & Psikologi Hadapi Narasumber
Mahmud Marhaba, Pemred bedainnews.com, Kamis (15/10/2026). Foto: Mahmud Marhaba (Kemayoran-Jakarta Pusat)
🚀 SLOT MITRA & SPONSOR

Perluas Jangkauan Bisnis & Brand Anda Bersama Kami

Tempatkan iklan usaha, banner, atau advertorial Anda di hadapan pembaca setia Bedain News.

Hubungi Redaksi
Dengarkan Berita AI
Dengarkan isi artikel layaknya podcast saat Anda sedang beraktivitas.
Kecepatan:
Simak rahasia jurnalis menghadapi rakyat kecil hingga pejabat tinggi menggunakan etika komunikasi dan psikologi massa agar tetap profesional.
⚡ 3 DETIK PAHAMIntisari Berita

Poin Kunci Yang Perlu Anda Tahu

1

Di tengah derasnya arus informasi dan kompetisi kecepatan publikasi, tantangan terbesar jurnalisme di lapangan kerap kali terletak pada bagaimana seorang...

2

Banyak fakta lapangan menunjukkan adanya jurang komunikasi yang timpang, di mana wartawan rentan bersikap dominan saat berhadapan dengan masyarakat bawah...

3

Guna menjaga marwah pers Indonesia, pemahaman etika komunikasi yang dipadukan dengan ilmu psikologi massa menjadi instrumen krusial bagi setiap insan pers di...

Dirangkum otomatis untuk baca kilatGulir ke bawah untuk naskah lengkap

JAKARTA - BEDAINNEWS.COM — Di tengah derasnya arus informasi dan kompetisi kecepatan publikasi, tantangan terbesar jurnalisme di lapangan kerap kali terletak pada bagaimana seorang wartawan berkomunikasi dengan narasumbernya.

Banyak fakta lapangan menunjukkan adanya jurang komunikasi yang timpang, di mana wartawan rentan bersikap dominan saat berhadapan dengan masyarakat bawah, namun mendadak kehilangan taji atau justru bersikap agresif tanpa data di hadapan pejabat tinggi.

Guna menjaga marwah pers Indonesia, pemahaman etika komunikasi yang dipadukan dengan ilmu psikologi massa menjadi instrumen krusial bagi setiap insan pers di semua tingkatan.

Menghadapi Masyarakat Bawah: Menjaga Empati dan Mencegah Trauma

Saat berhadapan dengan warga awam, korban bencana, maupun kelompok rentan, jurnalis diuji pada titik sensitivitas kemanusiaan tertinggi. Dalam perspektif psikologi massa, kelompok ini berada dalam kondisi mental yang tertekan (vulnerable state).

Kesalahan fatal yang sering dilakukan jurnalis adalah mengajukan pertanyaan sensasional yang mengeksploitasi penderitaan. Kondisi ini secara psikologis memaksa korban merekonstruksi rasa sakit secara emosional (retraumatization).

📲 KOMUNITAS RESMI BEDAIN NEWS

Dapatkan Peringatan Berita Terkini Langsung di WhatsApp Anda!

Bergabung bersama ribuan pembaca lainnya untuk mendapatkan update berita pilihan.

Gabung WhatsApp

Etika komunikasi berbasis psikologi mengarahkan wartawan untuk mengubah fokus pertanyaan dari eksplorasi trauma ke kebutuhan nyata publik (actionable info). Pendekatan berempati ini menempatkan jurnalis sebagai penyambung lidah masyarakat yang fungsional dan bermoral.

Menghadapi Pejabat Tinggi: Menguji Kebijakan Berbekal Data

Saat memasuki ruang liputan elite publik atau pejabat tinggi, pendekatan yang digunakan tentu berbeda. Pejabat publik umumnya memiliki refleks pertahanan diri (defense mechanism) yang kuat dan terlatih mengendalikan alur pembicaraan.

Kesalahan wartawan di area ini kerap terbagi ke dalam dua kutub ekstrem, yakni menjadi terlalu pasif atau bersikap menyerang pribadi narasumber (ad hominem) tanpa dasar data yang kuat.

Psikologi kontrol dalam wawancara elite menegaskan bahwa pejabat hanya bisa dikunci oleh fakta, dokumen, dan angka. Jika pejabat memberikan jawaban mengambang, jurnalis berkelas melakukan teknik re-anchoring untuk mengembalikan narasumber ke pertanyaan inti secara tenang, terukur, dan santun.

Dua Sisi Mata Uang Integritas Pers

Komunikasi jurnalistik yang profesional bukanlah tentang seberapa keras seorang wartawan menekan narasumbernya, melainkan seberapa dalam riset yang dilakukannya dan seberapa tinggi ia menghargai hak-hak publik atas informasi yang jujur.

Di hadapan narasumber rentan, jurnalis hadir sebagai pelindung martabat dengan berbekal empati. Sementara di hadapan kekuasaan, jurnalis bertindak sebagai penguji kebenaran dengan berbekal data.B

Kontributor: Mahmud Marhaba |Editor: Redaksi Bedain
TOPIK:Etika JurnalistikPsikologi MassaTeknik WawancaraIntegritas PersJAKARTA
Dukungan Pembaca 100% Untuk Riset Redaksi

Dukung Jurnalisme Independen Bedain News

Bantu tim redaksi kami tetap menyajikan berita berimbang, tajam, dan bebas pengaruh dengan mentraktir secangkir kopi.

PILIH PAKET APRESIASI:Dukungan segar untuk 1 laporan independen
Traktir Rp 15.000 Sekarang QRIS • GoPay • OVO • Dana • ShopeePay
✨ RESPONS PEMBACA

Bagaimana reaksi Anda terhadap artikel ini?

1 pembaca telah memberikan respons

Komentar & Diskusi Pembaca

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Memuat komentar...