JAKARTA - BEDAINNEWS.COM โ Dalam sesi wawancara dengan pejabat publik, politisi, atau pimpinan korporasi, jurnalis kerap membentur "tembok retorika". Ketika dilempar pertanyaan tajam mengenai dugaan penyimpangan, evaluasi kebijakan, atau krisis, narasumber elit yang terlatih sering kali menggunakan teknik spinningโmemutarbalikkan atau mengalihkan alur pembicaraan ke topik aman tanpa menjawab inti masalah.
Jika jurnalis tidak memiliki kewaspadaan kritis, wawancara akan berakhir menjadi panggung promosi gratis (PR talk) bagi narasumber, sementara hak publik atas kejelasan informasi terabaikan.
Untuk menembus tembok retorika tersebut secara santun, profesional, dan berkelas, jurnalis perlu menguasai dua teknik komunikasi taktis: Re-anchoring dan Bridge-Filtering.
Narasumber yang melakukan spinning biasanya menggunakan kalimat peralihan (bridging phrase) seperti: "Mengenai hal itu, yang terpenting sebenarnya adalah komitmen kami dalam membangun..." atau "Kita tidak perlu melihat ke belakang, yang jelas program ini sudah berjalan...".
Tujuan mereka sederhana: mengulur waktu, mengaburkan fokus data, dan mengarahkan jurnalis ke pernyataan normatif.
2 Senjata Taktis Mengunci Kebijakan
1. Teknik Re-anchoring (Mengikat Kembali Pertanyaan ke Jangkar Data)
Re-anchoring adalah seni mengembalikan fokus wawancara ke topik utama dengan cara menyandingkan jawaban normatif narasumber dengan fakta, angka, atau dokumen resmi (jangkar data).
Dapatkan Peringatan Berita Terkini Langsung di WhatsApp Anda!
Bergabung bersama ribuan pembaca lainnya untuk mendapatkan update berita pilihan.
Ketika narasumber mulai mengambang, jurnalis tidak boleh ikut terbawa alur pembicaraan narasumber, melainkan menancapkan kembali pertanyaan pada data awal.
โ Jurnalis Ikut Terbawa Alur (Gagal):
Jurnalis: "Bagaimana evaluasi proyek mangkrak ini Pak?"
Pejabat: "Kami selalu berkomitmen mempercepat pembangunan demi kesejahteraan rakyat daerah..."
Jurnalis: "Oh baik Pak, lalu apa rencana pembangunan tahun depan?" (Fokus hilang)
โ Penerapan Re-anchoring:
Jurnalis: "Bagaimana evaluasi proyek mangkrak ini Pak?"
Pejabat: "Kami selalu berkomitmen mempercepat pembangunan demi kesejahteraan rakyat daerah..."
Jurnalis (Tenang & Santun): "Kami sangat mengapresiasi komitmen tersebut, Pak. Namun merujuk pada Laporan Evaluasi Dinas Semester I, proyek ini baru terealisasi 15% dari target. Secara spesifik, apa kendala teknis yang membuat target tersebut belum tercapai?"
2. Teknik Bridge-Filtering (Menyaring Retorika Tanpa Menginterupsi Kasar)
Memotong pembicaraan pejabat secara emosional atau bersikap kasar akan membuat jurnalis terlihat tidak profesional dan memberi alasan bagi pejabat untuk menghentikan wawancara.
Bridge-filtering dilakukan dengan cara mengoreksi dan mengarahkan kembali fokus dialog secara santun dalam hitungan detik.
Langkah Bridge-Filtering:
- Apresiasi Singkat (Acknowledge): Beri pengakuan tipis atas pernyataan narasumber agar tidak terkesan memotong secara menyerang.
- Penyaringan (Filter): Pisahkan pernyataan umum/retorika dari substansi yang dicari.
- Pengarahan Ulang (Re-direct): Lempar kembali ke indikator yang terukur.
Contoh Aplikasi di Lapangan:
"Poin mengenai komitmen anggaran umum sudah sangat jelas, Pak Gubernur. Namun agar publik mendapatkan kepastian, bolehkah kami mendapatkan angka pasti berapa alokasi riil yang dicairkan untuk bantuan warga bulan ini?"
Catatan Redaksi Bedainnews.com
"Kewibawaan jurnalis tidak terletak pada seberapa keras ia memotong pembicaraan narasumber, melainkan pada ketenangannya dalam memilah retorika dan ketajamannya dalam menjaga agar fakta tidak terkubur oleh kata-kata manis."
Salam Bedain News

Komentar & Diskusi Pembaca
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!