BUKITTINGGI - BEDAINNEWS.COM โ Gorengan masih menjadi pilihan warga untuk menikmati sore bersama keluarga. Namun, di balik jajanan sederhana tersebut, pedagang kecil harus menghadapi kenaikan harga bahan baku yang turut membebani usaha mereka.
Kondisi itu dirasakan Mesi (21), penjual Gorengan Ortega di Simpang Tanjung Alam, Jalan Hafidz Jalil, Kelurahan Birugo, Kecamatan Aur Birugo Tigo Baleh, Kota Bukittinggi. Selama setahun terakhir, ia menjalankan usaha secara mandiri menggunakan gerobak sendiri sekaligus membantu orang tuanya.
Mesi menjual beragam jenis gorengan, mulai dari tahu isi, bakwan, tempe, godok, pisang cokelat, hingga risoles. Namun, ia mengaku omzet penjualannya kini turun hingga 50 persen dibandingkan biasanya.
โSekarang pemasukan menurun dari biasanya, bahkan berkurang sampai lima puluh persen,โ ungkap Mesi, Jumat (23/10/2026).
Di tengah penurunan omzet, kenaikan harga bahan baku turut menambah beban usahanya. Harga cabai rawit yang digunakan sebagai pelengkap gorengan mencapai Rp80 ribu per kilogram.
Sementara itu, harga ketan hitam yang sebelumnya berkisar Rp8 ribu hingga Rp12 ribu per kilogram, kini naik menjadi Rp22 ribu.
Dapatkan Peringatan Berita Terkini Langsung di WhatsApp Anda!
Bergabung bersama ribuan pembaca lainnya untuk mendapatkan update berita pilihan.
Mesi telah tinggal di Bukittinggi selama delapan tahun.
Sebelum berjualan di lokasi saat ini, ia pernah menjajakan gorengan selama tiga tahun di Pakan Sinayan, Koto Tuo, Kecamatan Banuhampu, Kabupaten Agam. Orang tuanya berasal dari Tegal dan telah puluhan tahun merantau di Padang Luar, Kabupaten Agam.
Untuk menunjang usahanya, Mesi menyewa toko dengan biaya Rp12 juta per tahun. Tempat tersebut digunakan untuk mengolah bahan baku sekaligus beristirahat. Sementara itu, gerobak dagangannya ditempatkan di depan toko dan dilengkapi bangku panjang bagi pelanggan yang ingin menikmati gorengan di tempat.
Meski menghadapi penurunan omzet dan kenaikan harga bahan baku, Mesi tetap berupaya mempertahankan usaha kecilnya. Ia terus berjualan di tengah tantangan biaya produksi yang meningkat dan pendapatan yang berkurang. B

Komentar & Diskusi Pembaca
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!