Today | Kamis, 5 November 2026
TOPIK HANGAT
Selamat datang di Bedain News — Portal Berita Terpercaya
Alih Bahasa Berita (AI):
Sosial

Bang Ipul, Penarik Sado yang Bertahan di Pandeglang

Kontributor: Yayan Rosansyah|Editor: Redaksi Bedain|
Minggu, 11 Oktober 2026 pukul 12.19 WIB
|
1 menit baca
Bang Ipul, Penarik Sado yang Bertahan di Pandeglang
Bang Ipul, penarik sado, tetap menjalani aktivitasnya di kawasan Alun-Alun Pandeglang, Banten, di tengah semakin maraknya transportasi modern. Foto: Yayan/bedainnews.com
🚀 SLOT MITRA & SPONSOR

Perluas Jangkauan Bisnis & Brand Anda Bersama Kami

Tempatkan iklan usaha, banner, atau advertorial Anda di hadapan pembaca setia Bedain News.

Hubungi Redaksi
Dengarkan Berita AI
Dengarkan isi artikel layaknya podcast saat Anda sedang beraktivitas.
Kecepatan:
Bang Ipul, penarik sado, tetap menjalani aktivitasnya di kawasan Alun-Alun Pandeglang, Banten, di tengah semakin maraknya transportasi modern.
⚡ 3 DETIK PAHAMIntisari Berita

Poin Kunci Yang Perlu Anda Tahu

1

Suara dentang besi tapak kuda yang beradu dengan aspal dingin di sudut trotoar Alun-Alun Kabupaten Pandeglang, Banten, menjadi irama harian yang akrab bagi...

2

Di tengah deru mesin sepeda motor dan mobil modern yang lalu-lalang membelah pusat kota, pria yang akrab disapa Bang Ipul itu tetap setia menggenggam tali...

3

Bang Ipul merupakan satu dari sedikit penjaga napas transportasi tradisional yang masih tersisa di Pandeglang.

Dirangkum otomatis untuk baca kilatGulir ke bawah untuk naskah lengkap

PANDEGLANG-BANTEN - BEDAINNEWS.COM – Suara dentang besi tapak kuda yang beradu dengan aspal dingin di sudut trotoar Alun-Alun Kabupaten Pandeglang, Banten, menjadi irama harian yang akrab bagi Ipul (43).

Di tengah deru mesin sepeda motor dan mobil modern yang lalu-lalang membelah pusat kota, pria yang akrab disapa Bang Ipul itu tetap setia menggenggam tali kekang sado kayunya.

Bang Ipul merupakan satu dari sedikit penjaga napas transportasi tradisional yang masih tersisa di Pandeglang. Selama 15 tahun, ia menggantungkan hidup di atas kereta kayu beroda dua tersebut.

Namun, seiring berjalannya waktu, roda zaman seolah bergerak lebih cepat daripada roda sadonya. Profesi tua ini pun harus menghadapi himpitan ekonomi yang semakin berat.

Menanti Rezeki yang Tak Menentu

Dari pagi hingga sore menjelang malam, Bang Ipul duduk di bangku kemudi sadonya. Pandangannya tertuju pada setiap pejalan kaki atau keluarga yang membawa anak-anak mereka berolahraga dan bersantai di kawasan alun-alun.

Ia berharap ada pengunjung yang tertarik merasakan nostalgia berkeliling kota menggunakan sado.

📲 KOMUNITAS RESMI BEDAIN NEWS

Dapatkan Peringatan Berita Terkini Langsung di WhatsApp Anda!

Bergabung bersama ribuan pembaca lainnya untuk mendapatkan update berita pilihan.

Gabung WhatsApp

Untuk satu kali putaran mengelilingi kawasan Alun-Alun Pandeglang, Bang Ipul mematok tarif sekitar Rp20.000 hingga Rp25.000. Harga tersebut relatif terjangkau untuk sebuah pengalaman menaiki moda transportasi tradisional.

Namun, nominal tersebut kini semakin sulit didapatkan.

"Kami mau kerja apa lagi, Pak? Ini satu-satunya usaha yang bisa kami lakukan. Biarpun tidak mencukupi kebutuhan ekonomi, ya harus tetap dijalani," ungkap Ipul di lokasi yang biasa menjadi tempat mangkalnya, Minggu (11/10/2026).

Menurut Ipul, pendapatan sebagai penarik sado saat ini jauh berbeda dibandingkan beberapa tahun lalu. Kehadiran berbagai moda transportasi modern dan kendaraan pribadi membuat daya tarik sado semakin menyusut.

"Dari satu hari, kami tidak bisa memastikan berapa kali dapat carteran. Kadang seharian dari pagi sampai sore hanya dapat satu kali carteran. Tapi ya mau bagaimana lagi, tetap harus disyukuri," tutur Ipul sembari mengelus leher kuda kesayangannya.

Beban Biaya Pakan dan Dapur yang Harus Tetap "Ngebul"

Menjadi penarik sado bukan sekadar urusan memenuhi kebutuhan hidup sang pengemudi. Ada makhluk hidup lain yang juga menggantungkan nasib kepadanya, yakni kuda penarik sado.

Dari pendapatan yang tidak seberapa dan tidak menentu, Bang Ipul masih harus menyisihkan uang untuk membeli pakan berupa rumput dan dedak, serta memenuhi kebutuhan perawatan kesehatan kudanya agar tetap kuat menarik beban.

Tak jarang, setelah dipotong biaya pakan kuda, uang yang tersisa untuk dibawa pulang hanya cukup untuk membeli beras dan lauk sederhana. Ketidakpastian pendapatan menjadi bagian dari kesehariannya.

Kendati demikian, menyerah bukanlah pilihan bagi Bang Ipul. Di tengah keterbatasan keterampilan dan sempitnya lapangan pekerjaan, merawat sado menjadi pilihan yang terus dijalaninya untuk mendapatkan nafkah bagi keluarga.

Menjaga Tradisi di Tengah Desakan Zaman

Kisah Bang Ipul di sudut Alun-Alun Pandeglang bukan sekadar cerita tentang perjuangan mencari nafkah. Kisah tersebut juga menggambarkan keberadaan transportasi tradisional yang masih bertahan di tengah arus modernisasi.

Sado yang dikendarainya bukan hanya alat transportasi, tetapi juga bagian dari identitas dan kenangan masa lalu Pandeglang yang perlahan memudar.

Di tengah perubahan zaman dan semakin terbatasnya pengguna jasa transportasi tradisional, Bang Ipul dan sadonya terus bertahan, menjalani hari demi hari demi menyambung hidup.

Kontributor: Yayan Rosansyah|Editor: Redaksi Bedain
TOPIK:Sadoalun alunpandeglangPandeglang-Banten
Dukungan Pembaca 100% Untuk Riset Redaksi

Dukung Jurnalisme Independen Bedain News

Bantu tim redaksi kami tetap menyajikan berita berimbang, tajam, dan bebas pengaruh dengan mentraktir secangkir kopi.

PILIH PAKET APRESIASI:Dukungan segar untuk 1 laporan independen
Traktir Rp 15.000 Sekarang QRIS • GoPay • OVO • Dana • ShopeePay
✨ RESPONS PEMBACA

Bagaimana reaksi Anda terhadap artikel ini?

3 pembaca telah memberikan respons

Komentar & Diskusi Pembaca

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Memuat komentar...