PANDEGLANG-BANTEN - BEDAINNEWS.COM – Suara dentang besi tapak kuda yang beradu dengan aspal dingin di sudut trotoar Alun-Alun Kabupaten Pandeglang, Banten, menjadi irama harian yang akrab bagi Ipul (43).
Di tengah deru mesin sepeda motor dan mobil modern yang lalu-lalang membelah pusat kota, pria yang akrab disapa Bang Ipul itu tetap setia menggenggam tali kekang sado kayunya.
Bang Ipul merupakan satu dari sedikit penjaga napas transportasi tradisional yang masih tersisa di Pandeglang. Selama 15 tahun, ia menggantungkan hidup di atas kereta kayu beroda dua tersebut.
Namun, seiring berjalannya waktu, roda zaman seolah bergerak lebih cepat daripada roda sadonya. Profesi tua ini pun harus menghadapi himpitan ekonomi yang semakin berat.
Menanti Rezeki yang Tak Menentu
Dari pagi hingga sore menjelang malam, Bang Ipul duduk di bangku kemudi sadonya. Pandangannya tertuju pada setiap pejalan kaki atau keluarga yang membawa anak-anak mereka berolahraga dan bersantai di kawasan alun-alun.
Ia berharap ada pengunjung yang tertarik merasakan nostalgia berkeliling kota menggunakan sado.
Dapatkan Peringatan Berita Terkini Langsung di WhatsApp Anda!
Bergabung bersama ribuan pembaca lainnya untuk mendapatkan update berita pilihan.
Untuk satu kali putaran mengelilingi kawasan Alun-Alun Pandeglang, Bang Ipul mematok tarif sekitar Rp20.000 hingga Rp25.000. Harga tersebut relatif terjangkau untuk sebuah pengalaman menaiki moda transportasi tradisional.
Namun, nominal tersebut kini semakin sulit didapatkan.
"Kami mau kerja apa lagi, Pak? Ini satu-satunya usaha yang bisa kami lakukan. Biarpun tidak mencukupi kebutuhan ekonomi, ya harus tetap dijalani," ungkap Ipul di lokasi yang biasa menjadi tempat mangkalnya, Minggu (11/10/2026).
Menurut Ipul, pendapatan sebagai penarik sado saat ini jauh berbeda dibandingkan beberapa tahun lalu. Kehadiran berbagai moda transportasi modern dan kendaraan pribadi membuat daya tarik sado semakin menyusut.
"Dari satu hari, kami tidak bisa memastikan berapa kali dapat carteran. Kadang seharian dari pagi sampai sore hanya dapat satu kali carteran. Tapi ya mau bagaimana lagi, tetap harus disyukuri," tutur Ipul sembari mengelus leher kuda kesayangannya.
Beban Biaya Pakan dan Dapur yang Harus Tetap "Ngebul"
Menjadi penarik sado bukan sekadar urusan memenuhi kebutuhan hidup sang pengemudi. Ada makhluk hidup lain yang juga menggantungkan nasib kepadanya, yakni kuda penarik sado.
Dari pendapatan yang tidak seberapa dan tidak menentu, Bang Ipul masih harus menyisihkan uang untuk membeli pakan berupa rumput dan dedak, serta memenuhi kebutuhan perawatan kesehatan kudanya agar tetap kuat menarik beban.
Tak jarang, setelah dipotong biaya pakan kuda, uang yang tersisa untuk dibawa pulang hanya cukup untuk membeli beras dan lauk sederhana. Ketidakpastian pendapatan menjadi bagian dari kesehariannya.
Kendati demikian, menyerah bukanlah pilihan bagi Bang Ipul. Di tengah keterbatasan keterampilan dan sempitnya lapangan pekerjaan, merawat sado menjadi pilihan yang terus dijalaninya untuk mendapatkan nafkah bagi keluarga.
Menjaga Tradisi di Tengah Desakan Zaman
Kisah Bang Ipul di sudut Alun-Alun Pandeglang bukan sekadar cerita tentang perjuangan mencari nafkah. Kisah tersebut juga menggambarkan keberadaan transportasi tradisional yang masih bertahan di tengah arus modernisasi.
Sado yang dikendarainya bukan hanya alat transportasi, tetapi juga bagian dari identitas dan kenangan masa lalu Pandeglang yang perlahan memudar.
Di tengah perubahan zaman dan semakin terbatasnya pengguna jasa transportasi tradisional, Bang Ipul dan sadonya terus bertahan, menjalani hari demi hari demi menyambung hidup.

Komentar & Diskusi Pembaca
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!