JAKARTA - BEDAINNEWS.COM โ Dalam dunia jurnalisme, kualitas sebuah wawancara sering kali diukur dari apa yang diucapkan oleh jurnalis dan dijawab oleh narasumber. Namun, para pakar komunikasi massa sepakat bahwa sebagian besar pesan dalam interaksi tatap muka justru disampaikan melalui saluran non-verbal: ekspresi wajah, kontak mata, postur tubuh, hingga intonasi suara.
Bagi seorang wartawan, penguasaan bahasa tubuh (non-verbal cues) bukan sekadar urusan estetika penampilan, melainkan alat komunikasi psikologis yang sangat ampuh untuk membangun rasa aman (psychological safety) bagi warga rentan, atau menjaga kewibawaan dan kesetaraan (equal footing) di hadapan pejabat tinggi.
3 Pendekatan Bahasa Tubuh Berbeda Berdasarkan Karakter Narasumber
Bahasa tubuh jurnalis tidak boleh disamakan rata saat meliput berbagai lapisan narasumber. Fleksibilitas sikap non-verbal menentukan kualitas informasi yang akan didapatkan.
1. Di Hadapan Korban, Warga Bawah, atau Kelompok Rentan: Postur Simpatik & Terbuka
Saat mewawancarai korban bencana atau warga yang sedang mengalami kesulitan, jurnalis harus menanggalkan kesan intimidatif yang kerap melekat pada kamera dan alat perekam.
- Kontak Mata Lembut: Tatap narasumber dengan hangat dan penuh perhatian, hindari tatapan tajam menyelidik.
- Postur Tubuh Merendah (Lowering the stance): Jika memungkinkan, posisikan tubuh sedikit membungkuk atau menyetarakan tinggi mata (eye level)โmisalnya dengan sedikit berjongkok atau duduk sejajarโterutama jika narasumber sedang duduk atau anak-anak. Jangan berdiri tegak kaku menjulang di atas korban yang sedang terduduk lesu.
- Gestur Terbuka: Hindari melipat tangan di dada (menunjukkan sikap defensif/menilai). Gunakan anggukan kepala pelan untuk menunjukkan empati tulus tanpa memotong kalimat mereka.
2. Di Hadapan Pejabat, Politisi, atau Elit Korporasi: Postur Tegak & Calm Control
Sebaliknya, ketika memasuki ruang kekuasaan atau berhadapan dengan pejabat yang terbiasa mendominasi ruangan, jurnalis wajib menampilkan bahasa tubuh yang memancarkan kewibawaan dan kesiapan data.
- Kontak Mata Konstan (Steady Eye Contact): Pertahankan kontak mata yang mantap dan tenang saat melontarkan pertanyaan kritis. Jangan mengalihkan pandangan atau tampak gelisah melihat catatan.
- Postur Tegak & Stabil: Berdiri atau duduk dengan postur tegak yang rileks namun kokoh. Postur ini secara psikologis mengirimkan sinyal bawah sadar bahwa jurnalis tidak gentar menghadapi jabatan atau retorika narasumber.
- Kendali Suara (Intonasi Datar & Terukur): Jurnalis berkelas tidak perlu meninggikan volume suara atau membentak untuk menunjukkan ketajaman. Suara yang tenang, pelan namun artikulatif justru jauh lebih mengintimidasi secara elegan dibandingkan teriakan emosional.
3. Etika Ruang Jarak (Proxemics) yang Profesional
Jurnalis yang profesional selalu menghargai zona personal narasumber. Menyodorkan mikrofon terlalu dekat ke wajah narasumber tanpa jarak yang manusiawi (personal space invasion) kerap memicu refleks defensif dan rasa tidak nyaman.
Dapatkan Peringatan Berita Terkini Langsung di WhatsApp Anda!
Bergabung bersama ribuan pembaca lainnya untuk mendapatkan update berita pilihan.
- Jaga jarak aman interaksi sosial (sekitar 50 hingga 100 sentimeter untuk wawancara formal/jarak todong mikrofon yang proporsional), sehingga narasumber merasa leluasa bernapas dan berpikir.
Catatan Redaksi Bedainnews.com
"Kata-kata bisa disusun dan direkayasa, namun bahasa tubuh dan ketenangan batin seorang jurnalis tidak bisa berbohong. Integritas, empati, dan ketegasan Anda terpancar nyata dari bagaimana cara Anda berdiri, mendengarkan, dan menatap dunia."B
Mahmud Marhaba
(Pemimpin Redaksi)

Komentar & Diskusi Pembaca
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!