Today | Kamis, 5 November 2026
TOPIK HANGAT
Selamat datang di Bedain News โ€” Portal Berita Terpercaya
Alih Bahasa Berita (AI):
Pendidikan

Bahasa Tubuh Jurnalis: Kunci Wawancara Sukses & Beretika

Kontributor: Mahmud Marhaba - Jakarta|Editor: Redaksi Bedain|
Minggu, 25 Oktober 2026 pukul 02.01 WIB
|
1 menit baca
Bahasa Tubuh Jurnalis: Kunci Wawancara Sukses & Beretika
Mahmud Marhaba, Bedain News
๐Ÿš€ SLOT MITRA & SPONSOR

Perluas Jangkauan Bisnis & Brand Anda Bersama Kami

Tempatkan iklan usaha, banner, atau advertorial Anda di hadapan pembaca setia Bedain News.

Hubungi Redaksi
Dengarkan Berita AI
Dengarkan isi artikel layaknya podcast saat Anda sedang beraktivitas.
Kecepatan:
Ketahui rahasia bahasa tubuh jurnalis saat wawancara korban rentan hingga pejabat. Kuasai etika non-verbal untuk hasil liputan yang maksimal.
โšก 3 DETIK PAHAMIntisari Berita

Poin Kunci Yang Perlu Anda Tahu

1

Dalam dunia jurnalisme, kualitas sebuah wawancara sering kali diukur dari apa yang diucapkan oleh jurnalis dan dijawab oleh narasumber.

2

Namun, para pakar komunikasi massa sepakat bahwa sebagian besar pesan dalam interaksi tatap muka justru disampaikan melalui saluran non-verbal: ekspresi wajah...

3

Bagi seorang wartawan, penguasaan bahasa tubuh (non-verbal cues) bukan sekadar urusan estetika penampilan, melainkan alat komunikasi psikologis yang sangat...

Dirangkum otomatis untuk baca kilatGulir ke bawah untuk naskah lengkap

JAKARTA - BEDAINNEWS.COM โ€” Dalam dunia jurnalisme, kualitas sebuah wawancara sering kali diukur dari apa yang diucapkan oleh jurnalis dan dijawab oleh narasumber. Namun, para pakar komunikasi massa sepakat bahwa sebagian besar pesan dalam interaksi tatap muka justru disampaikan melalui saluran non-verbal: ekspresi wajah, kontak mata, postur tubuh, hingga intonasi suara.

Bagi seorang wartawan, penguasaan bahasa tubuh (non-verbal cues) bukan sekadar urusan estetika penampilan, melainkan alat komunikasi psikologis yang sangat ampuh untuk membangun rasa aman (psychological safety) bagi warga rentan, atau menjaga kewibawaan dan kesetaraan (equal footing) di hadapan pejabat tinggi.

3 Pendekatan Bahasa Tubuh Berbeda Berdasarkan Karakter Narasumber

Bahasa tubuh jurnalis tidak boleh disamakan rata saat meliput berbagai lapisan narasumber. Fleksibilitas sikap non-verbal menentukan kualitas informasi yang akan didapatkan.

1. Di Hadapan Korban, Warga Bawah, atau Kelompok Rentan: Postur Simpatik & Terbuka

Saat mewawancarai korban bencana atau warga yang sedang mengalami kesulitan, jurnalis harus menanggalkan kesan intimidatif yang kerap melekat pada kamera dan alat perekam.

  • Kontak Mata Lembut: Tatap narasumber dengan hangat dan penuh perhatian, hindari tatapan tajam menyelidik.
  • Postur Tubuh Merendah (Lowering the stance): Jika memungkinkan, posisikan tubuh sedikit membungkuk atau menyetarakan tinggi mata (eye level)โ€”misalnya dengan sedikit berjongkok atau duduk sejajarโ€”terutama jika narasumber sedang duduk atau anak-anak. Jangan berdiri tegak kaku menjulang di atas korban yang sedang terduduk lesu.
  • Gestur Terbuka: Hindari melipat tangan di dada (menunjukkan sikap defensif/menilai). Gunakan anggukan kepala pelan untuk menunjukkan empati tulus tanpa memotong kalimat mereka.

2. Di Hadapan Pejabat, Politisi, atau Elit Korporasi: Postur Tegak & Calm Control

Sebaliknya, ketika memasuki ruang kekuasaan atau berhadapan dengan pejabat yang terbiasa mendominasi ruangan, jurnalis wajib menampilkan bahasa tubuh yang memancarkan kewibawaan dan kesiapan data.

  • Kontak Mata Konstan (Steady Eye Contact): Pertahankan kontak mata yang mantap dan tenang saat melontarkan pertanyaan kritis. Jangan mengalihkan pandangan atau tampak gelisah melihat catatan.
  • Postur Tegak & Stabil: Berdiri atau duduk dengan postur tegak yang rileks namun kokoh. Postur ini secara psikologis mengirimkan sinyal bawah sadar bahwa jurnalis tidak gentar menghadapi jabatan atau retorika narasumber.
  • Kendali Suara (Intonasi Datar & Terukur): Jurnalis berkelas tidak perlu meninggikan volume suara atau membentak untuk menunjukkan ketajaman. Suara yang tenang, pelan namun artikulatif justru jauh lebih mengintimidasi secara elegan dibandingkan teriakan emosional.

3. Etika Ruang Jarak (Proxemics) yang Profesional

Jurnalis yang profesional selalu menghargai zona personal narasumber. Menyodorkan mikrofon terlalu dekat ke wajah narasumber tanpa jarak yang manusiawi (personal space invasion) kerap memicu refleks defensif dan rasa tidak nyaman.

๐Ÿ“ฒ KOMUNITAS RESMI BEDAIN NEWS

Dapatkan Peringatan Berita Terkini Langsung di WhatsApp Anda!

Bergabung bersama ribuan pembaca lainnya untuk mendapatkan update berita pilihan.

Gabung WhatsApp
  • Jaga jarak aman interaksi sosial (sekitar 50 hingga 100 sentimeter untuk wawancara formal/jarak todong mikrofon yang proporsional), sehingga narasumber merasa leluasa bernapas dan berpikir.

Catatan Redaksi Bedainnews.com

"Kata-kata bisa disusun dan direkayasa, namun bahasa tubuh dan ketenangan batin seorang jurnalis tidak bisa berbohong. Integritas, empati, dan ketegasan Anda terpancar nyata dari bagaimana cara Anda berdiri, mendengarkan, dan menatap dunia."B

Mahmud Marhaba

(Pemimpin Redaksi)

Kontributor: Mahmud Marhaba - Jakarta|Editor: Redaksi Bedain
TOPIK:Bahasa Tubuh JurnalisEtika Non-VerbalTeknik WawancaraKomunikasi JurnalistikJAKARTA
Dukungan Pembaca 100% Untuk Riset Redaksi

Dukung Jurnalisme Independen Bedain News

Bantu tim redaksi kami tetap menyajikan berita berimbang, tajam, dan bebas pengaruh dengan mentraktir secangkir kopi.

PILIH PAKET APRESIASI:Dukungan segar untuk 1 laporan independen
Traktir Rp 15.000 Sekarang QRIS โ€ข GoPay โ€ข OVO โ€ข Dana โ€ข ShopeePay
โœจ RESPONS PEMBACA

Bagaimana reaksi Anda terhadap artikel ini?

1 pembaca telah memberikan respons

Komentar & Diskusi Pembaca

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Memuat komentar...